Sabtu, 17 Agustus 2024

Pogoguanan 3 (Bagian Akhir)

Sangat Surya belum juga menampakkan diri, namun kicauan burung sudah sahut-sahutan. Pertanda bahwa sebentar lagi bumi akan terang. 

Putri Jannatan mulai mempersiapkan segala kebutuhan perjalanan Suaminya Tangga Alam Dono Langit dengan putranya Ismuku Magamu. Mereka melakukan perjalanan memenuhi undangan dari ayah Putri Jannaure Sakilat tepat saat sang surya menampakkan diri.

Tangga Alam Dono Langit bersama putranya mulai turun menyusuri lereng gunung. Sampailah mereka pada tempat di mana Ismuku Magamu bertemu dengan Putri Jannaure.

Mereka belum melihat ada tanda-tanda pemukiman. 

"Apa kau melihat kemana mereka pergi saat kalian hendak berpisah?". Tangga Alam bertanya pada putranya.

"Iya Ayah, saya melihat mereka bergegas ke arah sana," jawab Ismuku sambil mengarahkan telunjuknya ke sela-sela pepohonan.

"Duhai mambang, jika kami benar-benar memiliki kemurnian niat dan tak ada niat buruk apapun, izinkan kami untuk bertemu dengan kaum kami di wilayah ini." Tangga Alam terdengar bergumam.

Tiba-tiba burung-burung berterbangan dari arah berlawanan dengan mereka. Pertanda bahwa, ada yang menyebabkan burung-burung itu ketakutan hingga berterbangan. Tangga Alam mulai yakin kalau ada yang mendiami di tempat itu.

"Oooh utat, maafkan atas kelancangan kami yang telah mengganggu ketentramanmu dan keluargamu. Kami datang untuk memenuhi undangan yang telah engkau kirimkan melalui putraku." Tangga Alam menyampaikan salam. 

"Jika sekiranya kami diperkenankan untuk datang bertamu, mohon izin beri petunjuk untuk masuk."

"Wahai utatku, bagaimana mungkin kami menolak kehormatan ini, bagi kami, mendapat kunjungan dari keluarga memegang teguh kehormatan adalah sebuah kehormatan. Teruskanlah langkahmu kedepan utatku. Kami sudah menunggu kunjungan ini." Lilimbuta, ayah dari Putri Jannaure Sakilat menjawab salam dari Tangga Alam.

Tangga Alam dan Putranya kemudian melanjutkan langkahnya menuju kediaman Keluarga Lilimbuta.

Di satu sisi, dengan penuh kegirangan Putri Jannaure berlari ke belakang mengabarkan pada Ibunya perihal kabar kedatangan keluarga Ismuku Magamu.

Rupa-rupanya, Putri Jannaure telah terpesona pada kegagahan Ismuku Magamu sejak pertemuan pertama. Apalagi saat ia mendengar prinsip Ismuku Magamu yang ditanamkan keluarganya tentang bagaimana bersikap terhadap perempuan.

Sebagai seorang ibu, Lilimbato tentu saja memahami perasaan putrinya melihat dari perubahan tingkah lakunya.

Sementara itu, di bale-bale telah terjadi percakapan penuh kehangatan antara Ayah Ismuku Magamu dengan ayah Putri Jannaure. Sementara Ismuku Magamu hanya berdiam diri mendengar percakapan kedua orang tua itu.

"Aku telah mendengar bagaimana prinsip putra Anda dari putri kami. Kami sangat terkesan dengan keluarga Anda." Kata ibu Putri Jannaure yang datang sambil membawa hidangan.

"Karena itulah, aku juga sangat berharap agar undangan suami hamba melalui putra Anda mendapat tanggapan. Kami sangat berterima kasih atas kehormatan ini.

Setelah itu, hubungan kedua keluarga pun terus berlanjut hingga kunjungan balasan dari dilakukan. 

Di satu sisi, Ismuku telah terpikat pada kecantikan Putri Jannaure dan ia pun jatuh hati. 

Kedua keluarga kemudian sepakat mengawinkan anaknya Ismuku Magamu dengan Putri Jannaure Sakilat.

***

Setelah kawin, Ismuku Magamu dengan Istrinya memilih untuk turun dari gunung Pogogul. Mereka menuju ke arah barat laut ke wilayah dataran yang subur dan membentuk pemukiman yang belakangan di kenal dengan Pinamula. 

Hasil perkawinan Ismuku Magamu di karuniai tiga orang anak yaitu Angganti Bone, Andog Lripu, dan Dai Bolre.

Keluarga ini kemudian mengalami perkembangan menjadi empat rumpun keluarga.

Setelah sekian lama di Pinamula, mereka menyusuri sungai kemudian berhenti dan menetap di suatu wilayah. Belakangan wilayah pemukiman itu di kenal dengan Guamonial.

Sekian lama berlalu, rumpun keluarga ini terus berkembang dan membentuk satu komunitas masyarakat atau persekutuan hidup. Mereka kemudian menamakan diri sebagai Ombukilan.

Pogoguanan (2)

Di bagian lain wilayah gunung Pogoguanan -selanjutnya disebut Pogogul-, muncul pula seorang putra bernama Yakuts dan seorang putri bernama Anggumilat. Yakuts muncul dari pohon kayu Bindona. Anggumilat muncul dari balik pohon Irimoga. 


Dalam kendali hukum alam, keduanya kemudian bertemu.


Pertemuan dua insan di tengah Alapnya rimba belantara kemudian menggelorakan tali kasih hingga keduanya melangsungkan perkawinan. Dari hasil perkawinan mereka melahirkan seorang putri yang dikenal dengan Putri Jannatan. 


Di area pegunungan yang tak terlalu luas itu, keluarga Yakutz akhirnya bertemu dengan keluarga Tamatau.  Mereka kemudian bersepakat menjodohkan anaknya Tangga Alam Dono Langit dan Putri Jannatan.


Perkawinan Putri Jannatan dan Tangga Alam menghasilkan keturunan seorang Putra yang dikenal dengan nama Ismuku Magamu.


Ismuku Magamu tumbuh berkembang sebagai seorang anak perkasa. Ia tak hanya berdiam diri di lingkungan tempat tinggalnya. Suatu hari ia memutuskan untuk berburu seorang diri. Dengan perbekalannya, ia mencoba turun sedikit dari Puncak gunung dan mencoba mengeliling gunung tersebut. 


Ia mencoba mendekati sungai kecil. Barangkali ada hewan buruan yang turun untuk minum, pikirnya. Tapi ia kaget bukan kepalang, ketika tiba-tiba seorang wanita cantik berteriak meminta pertolongan. 


"Siapa di sana, mengapa engkau mengintip seorang wanita yang hendak mandi". Teriak wanita itu.


"Maaf putri, aku tak bermaksud mengintip orang yang sedang mandi." Bahkan aku tidak pernah mengira ada orang lain selain kami di gunung ini.' Ismuku Magamu menimpali.


"Aku ke tempat ini hanya untuk melakukan kegiatan berburu." Ismuku Magamu mencoba menjelaskan keberadaannya di tempat itu.


"Siapa kisanak," tiba-tiba suara seorang lelaki dari seberang sungai terdengar. 


"Berani beraninya kau mengganggu Putriku," lanjut lelaki itu.


"Maaf tuan, aku tak bermaksud menyakiti putri Tuan. Bahkan Aku tak pernah mengira jika di tempat ini ada kehidupan manusia. Selama ini aku dan orang tuaku mengira hanya Kamilah penghuni wilayah ini." Lanjut Ismuku Magamu mencoba menjelaskan.


"Andai aku mengetahui kalau di tempat ini ada kehidupan manusia, mungkin aku tidak berburu ke wilayah ini. Apa lagi jika berniat mengganggu putri Tuan." Ismuku mencoba menjelaskan duduk perkaranya.


"Bagi kami putra Pogogul, pantang melecehkan seorang perempuan yang tak lain adalah kaum ibu kami yang sangat kami hormati. Itulah ajaran orang tua kami."


Lelaki yang datang itu tak lain adalah ayah dari Putri yang sedang mandi di sungai itu.


***


Terungkap bahwa, ternyata ada keluarga lain yang hidup di sisi lain gunung Pogogul. Mereka datang langsung dari kayangan. Keluarga terdiri dari seorang suami bernama Lilimbuta, seorang istri bernama Lilimbato dan Putri semata wayang bernama Putri Jannaure Sakilat.


"Baiklah," tiba-tiba Lilimbuta, ayah dari Putri Jannaure Sakilat bersuara. "Dari penjelasanmu dan caramu menyampaikan, aku yakin bahwa tampaknya engkau berasal dari keluarga terhormat dan memegang teguh kehormatan." Lilimbuta melanjutkan omongannya.


Lilimbuta kemudian mengeluarkan bongkahan batu hitam dan menyerahkan pada Ismuku Magamu. 


"Ambil ini nak. Tolong sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu. Jika berkenan, silakan ajak kedua orang tuamu berkunjung ke tempat kami."


"Baik Tuan. Terimakasih atas kepercayaannya. Aku akan terus mengingat kebaikan Tuan."


Ismuku Magamu kemudian kembali naik menuju tempat tinggalnya. Ia menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. 


Ayahnya, Tangga Alam Dono Langit terkejut ketika ketika Ismuku mengeluarkan bongkahan batu hitam pemberian Putri Jannaure.


"Ini seperti serpihan batu yang pernah diperlihatkan nenekmu." Segera atur perjalanan, kita akan berangkat menemui keluarga itu.


Bersambung.