Sabtu, 17 Agustus 2024

Pogoguanan (2)

Di bagian lain wilayah gunung Pogoguanan -selanjutnya disebut Pogogul-, muncul pula seorang putra bernama Yakuts dan seorang putri bernama Anggumilat. Yakuts muncul dari pohon kayu Bindona. Anggumilat muncul dari balik pohon Irimoga. 


Dalam kendali hukum alam, keduanya kemudian bertemu.


Pertemuan dua insan di tengah Alapnya rimba belantara kemudian menggelorakan tali kasih hingga keduanya melangsungkan perkawinan. Dari hasil perkawinan mereka melahirkan seorang putri yang dikenal dengan Putri Jannatan. 


Di area pegunungan yang tak terlalu luas itu, keluarga Yakutz akhirnya bertemu dengan keluarga Tamatau.  Mereka kemudian bersepakat menjodohkan anaknya Tangga Alam Dono Langit dan Putri Jannatan.


Perkawinan Putri Jannatan dan Tangga Alam menghasilkan keturunan seorang Putra yang dikenal dengan nama Ismuku Magamu.


Ismuku Magamu tumbuh berkembang sebagai seorang anak perkasa. Ia tak hanya berdiam diri di lingkungan tempat tinggalnya. Suatu hari ia memutuskan untuk berburu seorang diri. Dengan perbekalannya, ia mencoba turun sedikit dari Puncak gunung dan mencoba mengeliling gunung tersebut. 


Ia mencoba mendekati sungai kecil. Barangkali ada hewan buruan yang turun untuk minum, pikirnya. Tapi ia kaget bukan kepalang, ketika tiba-tiba seorang wanita cantik berteriak meminta pertolongan. 


"Siapa di sana, mengapa engkau mengintip seorang wanita yang hendak mandi". Teriak wanita itu.


"Maaf putri, aku tak bermaksud mengintip orang yang sedang mandi." Bahkan aku tidak pernah mengira ada orang lain selain kami di gunung ini.' Ismuku Magamu menimpali.


"Aku ke tempat ini hanya untuk melakukan kegiatan berburu." Ismuku Magamu mencoba menjelaskan keberadaannya di tempat itu.


"Siapa kisanak," tiba-tiba suara seorang lelaki dari seberang sungai terdengar. 


"Berani beraninya kau mengganggu Putriku," lanjut lelaki itu.


"Maaf tuan, aku tak bermaksud menyakiti putri Tuan. Bahkan Aku tak pernah mengira jika di tempat ini ada kehidupan manusia. Selama ini aku dan orang tuaku mengira hanya Kamilah penghuni wilayah ini." Lanjut Ismuku Magamu mencoba menjelaskan.


"Andai aku mengetahui kalau di tempat ini ada kehidupan manusia, mungkin aku tidak berburu ke wilayah ini. Apa lagi jika berniat mengganggu putri Tuan." Ismuku mencoba menjelaskan duduk perkaranya.


"Bagi kami putra Pogogul, pantang melecehkan seorang perempuan yang tak lain adalah kaum ibu kami yang sangat kami hormati. Itulah ajaran orang tua kami."


Lelaki yang datang itu tak lain adalah ayah dari Putri yang sedang mandi di sungai itu.


***


Terungkap bahwa, ternyata ada keluarga lain yang hidup di sisi lain gunung Pogogul. Mereka datang langsung dari kayangan. Keluarga terdiri dari seorang suami bernama Lilimbuta, seorang istri bernama Lilimbato dan Putri semata wayang bernama Putri Jannaure Sakilat.


"Baiklah," tiba-tiba Lilimbuta, ayah dari Putri Jannaure Sakilat bersuara. "Dari penjelasanmu dan caramu menyampaikan, aku yakin bahwa tampaknya engkau berasal dari keluarga terhormat dan memegang teguh kehormatan." Lilimbuta melanjutkan omongannya.


Lilimbuta kemudian mengeluarkan bongkahan batu hitam dan menyerahkan pada Ismuku Magamu. 


"Ambil ini nak. Tolong sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu. Jika berkenan, silakan ajak kedua orang tuamu berkunjung ke tempat kami."


"Baik Tuan. Terimakasih atas kepercayaannya. Aku akan terus mengingat kebaikan Tuan."


Ismuku Magamu kemudian kembali naik menuju tempat tinggalnya. Ia menceritakan kejadian yang baru saja dialaminya. 


Ayahnya, Tangga Alam Dono Langit terkejut ketika ketika Ismuku mengeluarkan bongkahan batu hitam pemberian Putri Jannaure.


"Ini seperti serpihan batu yang pernah diperlihatkan nenekmu." Segera atur perjalanan, kita akan berangkat menemui keluarga itu.


Bersambung.

Tidak ada komentar: