Sangat Surya belum juga menampakkan diri, namun kicauan burung sudah sahut-sahutan. Pertanda bahwa sebentar lagi bumi akan terang.
Putri Jannatan mulai mempersiapkan segala kebutuhan perjalanan Suaminya Tangga Alam Dono Langit dengan putranya Ismuku Magamu. Mereka melakukan perjalanan memenuhi undangan dari ayah Putri Jannaure Sakilat tepat saat sang surya menampakkan diri.
Tangga Alam Dono Langit bersama putranya mulai turun menyusuri lereng gunung. Sampailah mereka pada tempat di mana Ismuku Magamu bertemu dengan Putri Jannaure.
Mereka belum melihat ada tanda-tanda pemukiman.
"Apa kau melihat kemana mereka pergi saat kalian hendak berpisah?". Tangga Alam bertanya pada putranya.
"Iya Ayah, saya melihat mereka bergegas ke arah sana," jawab Ismuku sambil mengarahkan telunjuknya ke sela-sela pepohonan.
"Duhai mambang, jika kami benar-benar memiliki kemurnian niat dan tak ada niat buruk apapun, izinkan kami untuk bertemu dengan kaum kami di wilayah ini." Tangga Alam terdengar bergumam.
Tiba-tiba burung-burung berterbangan dari arah berlawanan dengan mereka. Pertanda bahwa, ada yang menyebabkan burung-burung itu ketakutan hingga berterbangan. Tangga Alam mulai yakin kalau ada yang mendiami di tempat itu.
"Oooh utat, maafkan atas kelancangan kami yang telah mengganggu ketentramanmu dan keluargamu. Kami datang untuk memenuhi undangan yang telah engkau kirimkan melalui putraku." Tangga Alam menyampaikan salam.
"Jika sekiranya kami diperkenankan untuk datang bertamu, mohon izin beri petunjuk untuk masuk."
"Wahai utatku, bagaimana mungkin kami menolak kehormatan ini, bagi kami, mendapat kunjungan dari keluarga memegang teguh kehormatan adalah sebuah kehormatan. Teruskanlah langkahmu kedepan utatku. Kami sudah menunggu kunjungan ini." Lilimbuta, ayah dari Putri Jannaure Sakilat menjawab salam dari Tangga Alam.
Tangga Alam dan Putranya kemudian melanjutkan langkahnya menuju kediaman Keluarga Lilimbuta.
Di satu sisi, dengan penuh kegirangan Putri Jannaure berlari ke belakang mengabarkan pada Ibunya perihal kabar kedatangan keluarga Ismuku Magamu.
Rupa-rupanya, Putri Jannaure telah terpesona pada kegagahan Ismuku Magamu sejak pertemuan pertama. Apalagi saat ia mendengar prinsip Ismuku Magamu yang ditanamkan keluarganya tentang bagaimana bersikap terhadap perempuan.
Sebagai seorang ibu, Lilimbato tentu saja memahami perasaan putrinya melihat dari perubahan tingkah lakunya.
Sementara itu, di bale-bale telah terjadi percakapan penuh kehangatan antara Ayah Ismuku Magamu dengan ayah Putri Jannaure. Sementara Ismuku Magamu hanya berdiam diri mendengar percakapan kedua orang tua itu.
"Aku telah mendengar bagaimana prinsip putra Anda dari putri kami. Kami sangat terkesan dengan keluarga Anda." Kata ibu Putri Jannaure yang datang sambil membawa hidangan.
"Karena itulah, aku juga sangat berharap agar undangan suami hamba melalui putra Anda mendapat tanggapan. Kami sangat berterima kasih atas kehormatan ini.
Setelah itu, hubungan kedua keluarga pun terus berlanjut hingga kunjungan balasan dari dilakukan.
Di satu sisi, Ismuku telah terpikat pada kecantikan Putri Jannaure dan ia pun jatuh hati.
Kedua keluarga kemudian sepakat mengawinkan anaknya Ismuku Magamu dengan Putri Jannaure Sakilat.
***
Setelah kawin, Ismuku Magamu dengan Istrinya memilih untuk turun dari gunung Pogogul. Mereka menuju ke arah barat laut ke wilayah dataran yang subur dan membentuk pemukiman yang belakangan di kenal dengan Pinamula.
Hasil perkawinan Ismuku Magamu di karuniai tiga orang anak yaitu Angganti Bone, Andog Lripu, dan Dai Bolre.
Keluarga ini kemudian mengalami perkembangan menjadi empat rumpun keluarga.
Setelah sekian lama di Pinamula, mereka menyusuri sungai kemudian berhenti dan menetap di suatu wilayah. Belakangan wilayah pemukiman itu di kenal dengan Guamonial.
Sekian lama berlalu, rumpun keluarga ini terus berkembang dan membentuk satu komunitas masyarakat atau persekutuan hidup. Mereka kemudian menamakan diri sebagai Ombukilan.
